April 21, 2008

SEANOMEDIC SUKU BAJO

(Foto-foto: Prof. Mas'ud Darmawan)

Suku Bajo dikenal sebagai pelaut-pelaut yang tangguh. Namun, sejarah lebih mengenal suku Makassar, suku Bugis, atau suku Mandar, sebagai raja di lautan. Padahal, suku Bajo pernah disebut-sebut pernah menjadi bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya. Dalam bagian sejarah itu, terdapatlah cerita senomadic atau manusia perahu.

SITUS-SITUS DI KALUMPANG

(Foto-foto: Michael Torro dan Bagoes Ilalang)

Kawasan Kalumpang berada di Kecamatan Kalumpang, sebelah timur kota Mamuju, Sulawesi Barat. Di tempat itu terdapat sejumlah situs arkais dn bukti sejarah pertanian tertua di Sulawesi. Erotis nan dasyat.

AMMATOA, PEMIMPIN SUKU KAJANG


(Foto-foto: Bagoes Ilalang dan Panyingkul)

Dongeng yang berkembang di tengah komunitas suku Kajang; dulu langit dan bumi menyatu berbentuk tetampah (pattapi). Ketika manusia pertama (mula tauna) muncul di tempat ini, langit dan bumi terpisah. Peristiwa itulah yang mengilhami penamaan "kajang" yang berarti "memisahkan". Di tempat itu, abadi juga keberadaan Ammatoa, pimpinan kharismatik dengan multi-perannya.

April 20, 2008

SULTAN BUTUNI, PEMIMPIN ORANG BUTON

(Foto-foto: Thamrin Soppeng dan Bagoes Ilalang)

Selama ini, Pulau Buton lebih dikenal sebagai pulau penghasil aspal. Padahal di luar hasil bumi tersebut, pulau ini memiliki “harta karun” nan dasyat. Yakni, jejak arkeologis berupa benteng-benteng yang nyaris mengepung seluruh pulau dan sejarah panjang Kesultanan Butuni dan Sultan Butuni. Ialah tokoh kharismatik yang kebesaraannya diakui sepanjang masa.


PUNGGAWA, "PEMIMPIN" SUKU MANDAR


(Foto-foto: M. Ridwan Alimuddin)

Kawasan pesisir Sulawesi Barat dikenal sebagai tempat bermukimnya suku Mandar – salah satu suku laut di pulau Sulawesi. Mereka dikenal sebagai possasiq atau pelaut-pelaut yang tangguh, dengan patron punggawa dan sawi yang terkenal.

OM JIMA, WARGA SUKU WANA


(Foto-foto: Bagoes Ilalang dan berbagai sumber)

Jauh di pedalaman Taman Nasional Morowali, Sulawesi Tengah, bermukim sebuah suku terasing bernama suku Wana. Tidak mudah untuk mendapati keterasingan mereka. Dari Kota Kolonodale, paling tidak kita membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk menjangkau kampung terdekat. Itu pun harus melintasi laut, sungai, dan menyusuri jalan setapak sekitar dua hari. Serta, naik-turun bukit! Di tempat, kita akan mendapati Om Jima, kepala suku Wana di dalam kawasan taman nasional itu.

PAK KATAK, WARGA SUKU TALANG MAMAK


(Foto-foto: Bagoes Ilalang dan berbagai sumber)

Suku Talang Mamak merupakan satu dari suku-suku terasing yang mendiami wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh di perbatasan provisi Riau dan Jambi. Masyarakat adat tersebut tergolong Proto Melayu atau Melayu Tua. Saat ini populasi mereka sekitar 6500 jiwa, dan sekitar 900 jiwa di antaranya bermukim di dalam kawasan Taman Nasional. Termasuk, Pak Katak, kemantan atau dukun dan kepala Dusun Datai di dalam kawasan taman nasional itu.


HAJI KIDUNG, WARGA SUKU BAJO


(Foto-foto: Panyingkul)

Pulau Sulawesi sangat identik dengan suku-suku laut. Sebut saja, suku Bugis, suku Makassar, suku Mandar, dan suku Bajo. Sejak dulu hingga sekarang, warga dari suku-suku tersebut dekat dengan laut. Dan, Haji Kidung menjadi cerita menarik. Ia Lolo Bajo (Bangsawan suku Bajo) yang kerap berburu ikan hiu di perairan Teluk Bone.

SAIDI, PANG MATOWA BISSU


(Foto-foto: Bagoes Ilalang dan Panyingkul)

Masih cerita tentang Bissu. Dan, kali ini merupakan kisah Puang Matowa Saidi (Pemimpin Komunitas Bissu Dewata di Kawasan Segeri Kabupaten Pangkejene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, sekaligus guru Muharom atau Hasnah).

MUHAROM, SANG BISSU LOLO

(Foto-foto: Bagoes Ilalang)

Dalam terminologi suku Bugis, Bissu adalah pendeta. Belakangan, predikat itu dibumbui kata “kuno” dan “bugis”. Sehingga, rona budaya atau Arkeologi Praislam lebih menonjol dibandingkan hakekat tokoh itu sendiri yang merupakan pemimpin religius pada zamannya.Dan, kehidupan itulah yang harus dimasuki Muharom atau Hasnah, sang Bissu Lolo.

SLAMET GUNDONO, DALANG WAYANG SUKET


(Foto-foto: Michael Torro)

Slamet Gundono adalah dalang ternama dari Tegal, yang mempopulerkan Wayang Suket – wayang yang terbuat dari rumput. Dengan kreativitasnya, dalang yang bertubuh tambun itu, memadukan keterampilan mendalang, berteater, dan bermusik, sambil memainkan lakon-lakon pewayangan klasik yang diaktualkan dengan peristiwa nyata. Sehingga, suket yang hakekatnya hanyalah tanaman liar, di tangannya menjelma menjadi tokoh-tokoh atau karakter-karakter yang memiliki pikiran dan jiwa.

KAJALI, DALANG WAYANG GARING

(Foto-foto: Bagoes Ilalang)

Wayang Garing adalah kesenian wayang kulit yang dimainkan oleh seorang dalang, tanpa didampingi sinden (penyanyi) dan nayaga (pemain musik). Ia adalah pemain tunggal. Ia menjadi dalang, ia juga menjadi sinden, dan ia juga menjadi nayaga. Tidak ada instrumen gamelan dalam pementasannya. Semua sumber suara berasal dari mulut sang dalang. Dan, Kajali adalah satu-satunya dalang kesenian di daerah Banten itu.

April 16, 2008

MASNAH, PENYANYI GAMBANG KROMONG


(Courtesy: "The Legend of Pang Tjin Nio)

Masnah atau Pang Tjin Nio adalah Gambang Kromong. Ketika namanya disebut, maka para pemerhati seni akan menghubungkannya dengan kesenian khas produk akulturasi Cina Keturunan dan Pribumi. Masnah juga tergolong maestro. Karena, nenek berusia 80 tahun itu telah memperlihatkan dedikasi yang begitu tinggi terhadap kesenian tradional itu.

April 15, 2008

CERITA KORBAN TSUNAMI


(Courtesy: Film "Atjeh Long Sayang")

Musibah tsunami di Aceh pada 26 Desember 2005 bisa jadi bencana terbesar di dunia selama abad ini. Paling tidak, bila hal ini dilihat dari jumlah korbannya yang mencapai 200.000 jiwa dan kerusakan fisik di banyak tempat. Adakah cerita lain yang diungkap paska bencana itu? Maka, “ATJEH LON SAYANG”lah jawabannya.